Slider

Jateng Wacanakan Sekolah 6 Hari, Ini Dampaknya bagi Siswa

Wacana sekolah 6 hari di Jateng memicu pro dan kontra karena dampaknya bagi siswa, guru, dan keseimbangan waktu belajar serta istirahat.

Wacana penerapan sekolah enam hari di Jawa Tengah terus menjadi topik yang hangat dibicarakan. Bukan hanya di kalangan tenaga pendidik dan pemerintah, tetapi juga di media sosial, forum orang tua, hingga obrolan siswa. Banyak yang melihat kebijakan ini sebagai peluang untuk memperbaiki sistem pembelajaran, namun tidak sedikit pula yang khawatir akan muncul beban baru bagi siswa dan guru.

6 Hari Sekolah
Gambar 1. Ilustrasi Siswa Sekolah Pada Hari Sabtu.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar persoalan teknis jadwal, melainkan menyangkut kualitas hidup anak, keseimbangan antara akademik dan non-akademik, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang mereka. Maka dari itu, wacana sekolah enam hari tidak bisa dilihat sebagai kebijakan sederhana, melainkan perubahan besar yang dampaknya bisa dirasakan dalam jangka panjang.

Latar Belakang Munculnya Wacana Sekolah 6 Hari

6 Hari Sekolah
Gambar 2. Suasana sekolah Jateng dan wacana 6 hari belajar

Wacana sekolah enam hari lahir dari keinginan untuk mengatur ulang sistem pembelajaran agar lebih efektif dan tidak terlalu menekan siswa dalam satu hari. Selama ini, sistem lima hari sekolah sering diiringi dengan jam belajar yang panjang, mulai pagi hingga sore hari. Kondisi ini membuat banyak siswa merasa lelah, sulit berkonsentrasi, bahkan kehilangan semangat belajar.

Dengan sistem enam hari, jam belajar per hari diharapkan bisa dipersingkat. Mata pelajaran dapat dibagi lebih merata, sehingga siswa tidak harus menerima terlalu banyak materi dalam satu waktu. Secara teori, hal ini bisa meningkatkan daya serap siswa karena mereka belajar dalam kondisi yang lebih segar.

Selain itu, kebijakan ini juga dikaitkan dengan penguatan pendidikan karakter. Sekolah memiliki ruang waktu lebih luas untuk mengadakan kegiatan non-akademik seperti pembinaan karakter, kegiatan keagamaan, olahraga, seni, hingga program literasi. Pendidikan tidak lagi hanya berfokus pada nilai, tetapi juga pada pembentukan sikap dan kepribadian.

Namun, Pemprov Jawa Tengah tidak langsung menerapkan kebijakan ini tanpa pertimbangan. Mereka melibatkan pakar pendidikan, perguruan tinggi, organisasi guru, serta dewan pendidikan. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah ingin memastikan kebijakan yang diambil benar-benar berbasis kajian ilmiah dan kebutuhan nyata di lapangan.

Artinya, sekolah enam hari bukanlah keputusan sepihak, melainkan hasil dari proses dialog panjang yang melibatkan banyak perspektif.

Pro dan Kontra dari Siswa, Orang Tua, dan Guru

6 Hari Sekolah
Gambar 3. Diskusi pro dan kontra sekolah 6 hari.

Dari sisi siswa, pendapat mereka sangat beragam. Ada yang mendukung karena berharap jam belajar harian menjadi lebih singkat. Mereka membayangkan pulang sekolah lebih awal, memiliki waktu istirahat lebih panjang, dan bisa menjalani aktivitas lain seperti hobi atau olahraga.

Namun, banyak juga siswa yang menolak karena khawatir kehilangan hari libur. Hari Sabtu selama ini dianggap sebagai waktu untuk bersantai, berkumpul dengan keluarga, atau mengikuti kegiatan di luar sekolah. Jika sekolah menjadi enam hari, maka waktu kebebasan mereka akan semakin sempit.

Orang tua pun terbagi dalam dua pandangan. Sebagian menilai sekolah enam hari dapat membantu mengarahkan anak agar lebih teratur dan terkontrol. Anak-anak dianggap memiliki aktivitas yang jelas dan terstruktur sepanjang minggu.

Di sisi lain, banyak orang tua merasa peran keluarga dalam mendidik anak justru akan semakin kecil. Waktu kebersamaan yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk komunikasi dan pembentukan karakter di rumah menjadi berkurang.

Sementara itu, guru memiliki kekhawatiran yang lebih kompleks. Tugas guru bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga menyiapkan materi, menilai tugas, membuat laporan, serta mengikuti pelatihan. Jika hari sekolah bertambah, beban kerja otomatis meningkat. Dikhawatirkan hal ini justru menurunkan kualitas pengajaran karena guru kelelahan secara fisik dan mental.

PGRI Jawa Tengah bahkan menyuarakan bahwa kebijakan ini perlu dikaji ulang secara mendalam. Mereka menilai bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan penambahan hari belajar. Kualitas interaksi di kelas jauh lebih penting dibanding kuantitas waktu.

Perbedaan pandangan ini memperlihatkan bahwa sekolah enam hari bukan hanya soal teknis pendidikan, tetapi juga menyangkut keseimbangan peran sekolah dan keluarga dalam membentuk generasi muda.

Dampak pada Waktu Belajar dan Kesehatan Mental

6 Hari Sekolah
Gambar 4. Siswa lelah akibat padatnya waktu belajar.

Isu terbesar dari wacana sekolah enam hari adalah keseimbangan antara belajar dan istirahat. Anak-anak dan remaja membutuhkan waktu untuk memulihkan energi, baik secara fisik maupun emosional. Jika mereka hanya memiliki satu hari libur dalam seminggu, maka risiko kelelahan akan semakin besar.

Namun, di sisi lain, sistem enam hari bisa memberi dampak positif jika diatur dengan tepat. Misalnya, jam belajar dibuat lebih singkat, tugas rumah dikurangi, dan sekolah memberikan ruang bagi aktivitas yang menyenangkan seperti seni, olahraga, dan diskusi kreatif.

Sekolah juga bisa mengatur agar hari keenam tidak selalu berisi mata pelajaran berat, tetapi lebih banyak kegiatan pengembangan diri. Dengan cara ini, siswa tidak merasa bahwa mereka “terus belajar”, tetapi justru merasa sedang mengeksplorasi minat dan bakat mereka.

Masalahnya, implementasi kebijakan sering kali tidak seideal konsep di atas. Jika tidak diawasi dengan baik, sekolah enam hari hanya akan menambah hari belajar tanpa mengurangi beban harian. Inilah yang menjadi kekhawatiran terbesar banyak pihak.

Pendidikan tidak hanya tentang seberapa banyak materi yang diajarkan, tetapi juga tentang bagaimana anak tumbuh sebagai manusia seutuhnya. Anak membutuhkan ruang untuk bermain, berinteraksi sosial, dan mengenal dunia di luar sekolah.

Sekolah enam hari berpotensi menggeser keseimbangan ini. Jika hampir seluruh waktu anak dihabiskan di lingkungan sekolah, maka pengalaman belajar mereka menjadi kurang beragam. Padahal, pendidikan sejati tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di rumah dan masyarakat.

Dua pandangan ini sama-sama memiliki dasar yang kuat. Karena itu, kebijakan pendidikan seharusnya tidak bersifat kaku. Pemerintah daerah bisa mempertimbangkan penerapan yang fleksibel, misalnya dengan memberi pilihan kepada sekolah atau menyesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing.

Daerah perkotaan dan pedesaan tentu memiliki kebutuhan yang berbeda. Sistem yang cocok di satu wilayah belum tentu efektif di wilayah lain.

Pendidikan Bukan Sekadar Soal Menambah Hari Sekolah

6 Hari Sekolah
Gambar 5. Pendidikan lebih dari sekadar jadwal sekolah.

Hingga saat ini, wacana sekolah enam hari di Jawa Tengah masih dalam tahap kajian. Pemerintah daerah menegaskan bahwa belum ada keputusan final, dan semua masukan masyarakat masih menjadi bahan pertimbangan.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dipandang sebagai urusan bersama. Suara siswa, guru, dan orang tua sama pentingnya dengan pandangan para pakar.

Jika nantinya kebijakan ini diterapkan, maka yang harus menjadi fokus utama adalah kesejahteraan siswa. Sekolah enam hari hanya akan bermakna jika benar-benar mampu meningkatkan kualitas pendidikan tanpa mengorbankan kesehatan mental dan kehidupan sosial anak.

Sebaliknya, jika kebijakan ini justru menambah tekanan, maka perlu dipertimbangkan ulang. Pendidikan seharusnya membentuk generasi yang cerdas, sehat, dan bahagia, bukan generasi yang kelelahan dan tertekan oleh sistem.

Wacana ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali apakah sistem pendidikan kita sudah cukup manusiawi? Apakah jadwal belajar yang ada benar-benar berpihak pada kebutuhan anak? Atau justru masih terjebak pada pola lama yang mengutamakan kuantitas daripada kualitas?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat wacana sekolah enam hari di Jawa Tengah menjadi isu besar, bukan sekadar perubahan jadwal, tetapi perdebatan tentang masa depan pendidikan itu sendiri.


0

Tidak ada komentar

Posting Komentar

blogger
© all rights reserved
made with by Pustaka Media Online