Slider

Cara Pahat Batu Merapi Jadi Cobek Bulat Di Bengkel Magelang

Pahat batu Merapi di Magelang jadi cobek bulat lewat proses manual dari pemilihan batu hingga finishing, menghasilkan alat dapur kuat dan tahan lama.

Proses pahat batu Merapi menjadi cobek bulat di bengkel Magelang merupakan salah satu kerajinan tradisional yang masih bertahan hingga sekarang dan masih bisa dilihat langsung di bengkel-bengkel kecil pinggir rumah warga. Batu dari lereng Gunung Merapi dikenal sangat keras, berat, dan bertekstur padat sehingga cocok dijadikan cobek yang dipakai untuk mengulek sambal, bumbu dapur, hingga kebutuhan masak harian di rumah.

Cara Pahat
Gambar 1. Ilustrasi Cara Pahat Batu Merapi

Di Magelang, para pengrajin biasanya bekerja di bengkel sederhana yang terbuka, dengan peralatan seperti palu besi, pahat baja, dan roda gerinda manual atau listrik. Aktivitas ini dilakukan setiap hari secara nyata di lokasi kerja, mulai dari memotong batu besar, membentuk kasar, sampai menghaluskan permukaan cobek agar bisa dipakai dengan nyaman. Semua proses terlihat langsung tanpa rekayasa.

Kerajinan cobek batu ini tidak hanya menjadi alat dapur biasa, tetapi juga bagian dari pekerjaan ekonomi masyarakat setempat yang sudah berlangsung lama. Banyak warga sekitar yang bisa melihat langsung proses pembuatannya, mulai dari batu mentah sampai menjadi cobek bulat siap jual yang biasanya dipasarkan ke pasar tradisional, toko perabot, hingga pembeli dari luar daerah.

Proses Pemilihan Batu Merapi

Langkah awal dalam pembuatan cobek adalah memilih batu Merapi yang benar-benar kuat dan tidak mudah pecah. Batu biasanya diambil dari material sisa letusan yang sudah mengeras, lalu dipilah satu per satu di halaman bengkel. Pengrajin memegang langsung batu tersebut untuk merasakan berat, kepadatan, dan permukaan luar secara nyata sebelum diproses.

Proses Pemilihan
Gambar 2. Ilustrasi Proses Pemilihan Batu Merapi

Batu yang dipilih harus memiliki bentuk cukup tebal dan tidak banyak retakan kecil. Pengrajin biasanya mengetuk batu dengan palu kecil untuk mendengar suara “nyaring” atau “padat” sebagai tanda batu bagus. Proses ini dilakukan secara langsung, tidak abstrak, dan sangat bergantung pada pengalaman tangan pengrajin yang sudah bertahun-tahun bekerja.

Jika batu sudah sesuai, kemudian dipisahkan ke area kerja untuk dipotong menjadi ukuran lebih kecil. Batu besar biasanya dipecah dulu menggunakan palu besar, lalu disusun sesuai ukuran cobek yang akan dibuat, seperti kecil, sedang, atau besar. Semua tahap ini terlihat jelas di bengkel tanpa proses rumit, hanya mengandalkan ketelitian dan tenaga.

Proses Pemahatan dan Pembentukan

Setelah batu siap, pengrajin mulai proses pemahatan menggunakan pahat besi dan palu berat. Batu dipukul perlahan namun kuat untuk membentuk lingkaran kasar. Suara benturan “ting-ting” dan “duk-duk” sering terdengar di bengkel, menandakan proses kerja yang benar-benar nyata dan dilakukan secara manual tanpa mesin otomatis penuh.

Proses Pemahatan
Gambar 3. Ilustrasi Proses Pemahatan dan Pembentukan

Pada tahap ini, bentuk cobek mulai terlihat. Bagian luar dibulatkan sedikit demi sedikit, sementara bagian tengah mulai dilubangi untuk tempat mengulek bumbu. Pengrajin harus menjaga keseimbangan agar tidak terlalu dalam atau terlalu dangkal, karena akan mempengaruhi fungsi cobek saat dipakai di dapur rumah.

Setelah bentuk dasar jadi, batu kemudian dirapikan menggunakan gerinda. Permukaan luar dihaluskan agar tidak tajam saat dipegang, sedangkan bagian dalam dibuat kasar sedikit supaya bumbu tidak licin saat diulek. Semua proses ini dilakukan langsung di meja kerja dengan posisi duduk atau berdiri dekat alat.

Kesimpulan

Proses pahat batu Merapi menjadi cobek bulat di bengkel Magelang adalah kegiatan kerajinan nyata yang masih dilakukan sampai sekarang oleh pengrajin lokal. Setiap tahap mulai dari pemilihan batu, pemahatan, hingga finishing dilakukan secara langsung dengan alat sederhana namun menghasilkan produk yang kuat dan tahan lama.

Kerajinan ini bukan hanya soal membuat alat dapur, tetapi juga menunjukkan keterampilan tangan masyarakat yang masih bertahan di tengah perkembangan mesin modern. Setiap cobek yang dihasilkan memiliki bentuk unik karena dibuat manual satu per satu, bukan produksi pabrik massal.

Dengan tetap dilestarikan, kerajinan cobek batu Merapi ini akan terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, sekaligus menjaga pekerjaan tradisional di Magelang agar tetap hidup, nyata, dan bisa terus dilihat langsung oleh generasi berikutnya.


Credit Penulis: Elvina Azzahra Gambar Ilustrasi: Gemini AI Referensi:
blogger
© all rights reserved
made with by Pustaka Media Online