Slider

Mengapa Ritual Kungkum Gua Meditasi di Jateng Ramai Dicari?

Ritual Kungkum di Jateng tengah jadi tren healing anak muda. Cari tahu mengapa Gen Z ramai mencari ketenangan di sendang dan gua, serta filosofinya
Kungkum di Mata Air Goa
Gambar 1. Ilustrasi Anak Muda Melakukan Ritual Kungkum

Gelombang remaja dan anak muda berkaos oblong dan celana jeans antre dengan khidmat, bukan untuk konser musik atau festival kuliner, tetapi untuk mengikuti ritual kungkum (berendam) di sendang (mata air) keramat larut malam. Di tempat lain, gua-gua yang sunyi dipenuhi mereka yang duduk bermeditasi, jauh dari dering notifikasi ponsel. Di tengah gemerlap kehidupan digital, sebuah tren tak terduga muncul di Jawa Tengah: anak-anak muda berbondong-bondong mencari kedamaian dan jawaban hidup melalui ritual dan meditasi di tempat-tempat spiritual. Apa yang sebenarnya mereka cari?

Tengok saja media sosial. Tagar #WisataRitual, #HealingTradisional, dan #Kungkum ramai dengan video-video pendek di TikTok dan Reels yang menampilkan pengalaman personal di tempat seperti Sendang Sono (Yogyakarta), Gua Maria Kerep (Ambarawa), atau Gua Maria Sendangsono. Konten-konten ini tidak sekadar menunjukkan lokasi, tetapi lebih banyak bercerita tentang "pencarian" dan "penemuan kedamaian". Tren ini bukan lagi milik kelompok tertentu, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup healing generasi muda urban di Jawa Tengah yang lelah akan kehampahan.

Pelarian dari Kecemasan Digital

Psikolog Klinis dari Semarang, Aulia Putri, M.Psi., melihat fenomena ini sebagai respons alami terhadap tekanan zaman. “Generasi Z tumbuh dalam tekanan yang unik: kecemasan akan masa depan (future anxiety), burnout akademik/kerja, dan banjir informasi yang tak henti dari dunia digital. Ritual dan meditasi menawarkan sesuatu yang langka: kesunyian, struktur, dan makna yang konkret,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ritual seperti kungkum memberikan “anchor” atau jangkar. “Ada tata cara yang harus diikuti, ada waktu khusus, ada fokus pada tubuh dan alam. Ini adalah bentuk mindfulness yang sudah ada dalam kearifan lokal. Mereka tidak sekadar berlibur, tapi melakukan ‘reset’ diri dengan kerangka yang sudah disediakan oleh tradisi.”

Menyelam ke Dalam Ritual “Kungkum”

Juru Kunci Sendang Sono, bercerita bahwa ritual kungkum di sana telah ada sejak ratusan tahun, terkait dengan perjalanan spiritual dan penyucian diri. “Air di sini diyakini sebagai tirta amerta, air kehidupan. Prosesnya bukan sembarang mandi. Dimulai dengan niat, berdoa sesuai keyakinan, lalu masuk ke sendang pada waktu yang ditentukan,biasanya malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Saat kungkum, orang diajak untuk merenung, melepas semua beban, dan membiarkan air membersihkan jiwa-raga,” paparnya.

Yang menarik, 60% pengunjungnya sekarang adalah anak muda. “Mereka banyak yang bertanya soal filosofi. "Saya senang, justru dengan datangnya mereka, ritual ini tetap hidup. Tapi saya selalu ingatkan, jangan hanya untuk swafoto. Rasakan prosesnya.”

Suara Generasi Pencari

Mereka yang datang memang bukan tanpa alasan. Seperti diungkapkan, mahasiswa asal Semarang yang baru saja melakukan kungkum pertamanya. “Awalnya lihat di TikTok, penasaran. Tapi pas di sana, di tengah dinginnya air dan heningnya malam, saya malah menangis. Kayak ada beban yang keluar. Ini pengalaman healing yang jauh lebih deep daripada sekadar nongkrong di kafe,” katanya. Cerita serupa mahasiswa, yang rutin meditasi di Gua Maria Kerep. “Di kampus, hidup serba cepat. Di gua, waktu berjalan berbeda. Saya belajar untuk berhenti sejenak, bernapas, dan menemukan ketenangan yang sebenarnya sangat saya butuhkan. Ini seperti charging ulang spiritual.”

Dampak di Balik Tren

Tren ini membawa angin segar bagi komunitas lokal. Warung-warung kecil, homestay, dan penyedia jasa parkir di sekitar lokasi ritual mulai bergairah. “Sejak ramai anak muda, ekonomi kami makin hidup,” ujar pemilik warung di dekat Sendang Sono. Namun, budayawan dari Solo memberikan catatan penting. “Ini fenomena yang bagus sebagai pintu masuk generasi muda ke khazanah budayanya sendiri. Namun, harus ada literasi yang mendampingi. Jangan sampai ritual hanya jadi komoditas hype semata. Pemahaman akan makna, tata cara yang sopan, dan penghormatan pada keyakinan lokal harus tetap dijaga. Intinya, jadikan pengalaman ini sebagai jalan untuk memahami jati diri, bukan sekadar koleksi konten di media sosial.”

Jadi, ritual kungkum dan meditasi di gua bukan sekadar destinasi wisata baru bagi anak muda Jawa Tengah. Mereka adalah oase di gurun digital. Sebuah tanda bahwa di tengah laju modernitas yang kencang, hasrat akan kedalaman spiritual, pencarian identitas, dan kebutuhan untuk terhubung kembali dengan akar budaya justru kian menguat. Mereka tidak meninggalkan zaman mereka, melainkan menggunakan caranya sendiri—dipandu oleh kilau layar ponsel untuk menemukan jalan pulang menuju kedamaian yang sudah lama ditawarkan oleh tanah leluhur. Tren ini mungkin akan berevolusi, tetapi satu hal yang jelas: kebutuhan manusia akan makna dan ketenangan batin adalah abadi.


Credit Penulis :Kantata Rayya T. Gambar Ilustrasi :AI Gemini
0

Tidak ada komentar

Posting Komentar

blogger
© all rights reserved
made with by Pustaka Media Online