Slider

Duta GENRE Bongkar Isu Remaja Sensitif, Pakai Bahasa Mereka

Mengulas strategi Duta GENRE Wonosobo membahas isu remaja dengan bahasa dan media yang dekat dengan anak muda agar pesan lebih mudah diterima.
Duta Genre Jawa Tengah
Gambar 1. Ilustrasi Duta Genre

Tantangan Komunikasi yang Butuh Pendekatan Baru

Menyampaikan pesan tentang kesehatan reproduksi, pencegahan pernikahan dini, dan bahaya narkoba kepada remaja bukanlah hal mudah. Sering kali, pesan penting dari orang dewasa atau otoritas kesehatan terhalang oleh kesenjangan generasi, dianggap "menggurui", atau tidak sesuai dengan cara remaja mengonsumsi informasi.

Di Wonosobo, Jawa Tengah, para Duta Generasi Berencana (GENRE) ditunjuk sebagai peer counselor atau konselor sebaya untuk menjembatani kesenjangan ini. Peran mereka menjadi sangat krusial mengingat data. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, proporsi perempuan berusia 20-24 tahun yang menikah sebelum usia 18 tahun di Jawa Tengah masih mencapai 15,8%, di atas rata-rata nasional. Angka ini menunjukkan bahwa isu pernikahan dini masih relevan dan memerlukan intervensi yang efektif.

Strategi inti yang diusung adalah komunikasi peer-to-peer dengan bahasa dan media yang akrab di dunia remaja, sebuah metode yang didukung oleh penelitian. Sebuah studi dalam Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia (2021) menyimpulkan bahwa pendidikan sebaya (peer education) efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja tentang kesehatan reproduksi karena informasi disampaikan oleh figur yang dianggap setara dan memahami konteks sosial yang sama.

Menemui Remaja di Habitat Digital Mereka

Strategi Pilar Komunikasi
Gambar 2. Pilar Strategi Komunikasi

Kunci dari strategi Duta GENRE adalah adaptasi. Mereka tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga mengemasnya dalam format yang disukai oleh audiens mereka.

  • Menggunakan Bahasa yang Relevan dan Tidak Menghakimi
  • Konsep seperti "Triad Remaja" merujuk pada tiga risiko utama pernikahan dini, seks bebas, dan penyalahgunaan NAPZA, diterjemahkan menjadi percakapan yang lebih mudah dicerna. Materi sosialisasi dari berbagai Duta GENRE di daerah menunjukkan pola serupa. Menggunakan analogi dari kehidupan sehari-hari (seperti merencanakan masa depan seperti merencanakan jalan-jalan), dan menekankan pada pilihan serta konsekuensi alih-alih larangan. Pendekatan ini selaras dengan prinsip komunikasi remaja yang menekankan pada pemberdayaan (empowerment) dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, bukan sekadar instruksi.

  • Memanfaatkan Platform Media Sosial Secara Kreatif
  • Data dari We Are Social tahun 2024 menunjukkan bahwa 99% pengguna internet Indonesia usia 16-24 tahun aktif di platform media sosial, dengan YouTube, WhatsApp, Instagram, dan TikTok sebagai yang paling populer. Duta GENRE memanfaatkan fakta ini.

    1. TikTok dan Instagram Reels menjadi wahana untuk konten edukasi singkat (di bawah 60 detik) dengan musik tren dan teks yang menarik.
    2. Instagram Story digunakan untuk kuis, polling, atau sekadar "meme" edukatif yang relatable.
    3. Grup WhatsApp atau Discord berfungsi sebagai ruang diskusi yang lebih privat dan aman bagi remaja untuk bertanya.

Peran sebagai "Konselor Sebaya"

Pemilihan Duta GENRE di Wonosobo, seperti dilansir situs Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, memang bertujuan menjadikan mereka role model di kalangan remaja. Namun, peran mereka lebih mendalam dari sekadar figur teladan.

Mereka berfungsi sebagai titik akses pertama bagi remaja yang membutuhkan informasi atau menghadapi masalah tetapi enggan berkomunikasi dengan orang dewasa. Konsep "konselor sebaya" ini efektif karena menurunkan tingkat kecemasan dan rasa malu. Remaja cenderung lebih jujur dan terbuka dengan orang seusia mereka, yang dianggap lebih memahami perasaan dan situasi mereka tanpa mudah menghakimi. Duta GENRE terlatih untuk memberikan informasi yang akurat dan, jika diperlukan, mengarahkan teman sebaya kepada tenaga profesional (seperti konselor atau tenaga kesehatan) untuk penanganan lebih lanjut.

Tantangan yang Dihadapi di Dunia Maya

Meski strategi digital menjanjikan, tantangan yang dihadapi tidak kecil. Banjir informasi dan hoaks yang berseliweran di internet menjadi musuh utama. Banyak informasi kesehatan reproduksi yang tidak akurat tersebar luas di forum dan grup tertutup. Tugas Duta GENRE tidak hanya menyebarkan informasi baru, tetapi juga meluruskan misinformasi yang sudah terlanjur dipercaya, yang membutuhkan kesabaran dan kredibilitas yang tinggi.

Selain itu, menciptakan konten yang konsisten, menarik, dan akurat memerlukan waktu serta kreativitas. Tidak semua remaja memiliki keterampilan desain grafis atau produksi video yang memadai, sehingga dukungan dari pihak penyelenggara program, seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA), dalam bentuk pelatihan atau pendanaan untuk konten, sangat dibutuhkan.

Investasi untuk Masa Depan yang Lebih Terencana

Sesi Diskusi Duta Genre
Gambar 3. Ilustrasi Sesi Konseling Duta Genre

Upaya Duta GENRE Wonosobo dan daerah lain dalam berkomunikasi dengan "bahasa anak muda" bukan sekadar tren. Ini adalah investasi strategis dalam membangun ketahanan remaja. Dengan mendekati mereka melalui saluran dan bahasa yang mereka pahami, pesan-pesan penting tentang perencanaan kehidupan, kesehatan, dan masa depan memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk diinternalisasi dan dipraktikkan

Keberhasilan pendekatan ini tidak hanya diukur dari jumlah like dan share, tetapi dari perubahan sikap dan penurunan angka pernikahan dini, kehamilan tidak diinginkan, serta penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja Wonosobo pada tahun-tahun mendatang. Pada akhirnya, mereka adalah ujung tombak dalam mewujudkan generasi yang tidak hanya sehat dan cerdas, tetapi juga memiliki kendali penuh atas masa depan mereka sendiri.


0

Tidak ada komentar

Posting Komentar

blogger
© all rights reserved
made with by Pustaka Media Online