Di sebuah warung kopi kekinian di Semarang, sekelompok mahasiswa tak lagi membicarakan zodiak. Percakapan mereka beralih ke sesuatu yang lebih lokal “Wetonku Rabu Wage, katanya cocok banget sama Kamis Kliwon buat bisnis,” ujar seorang pemuda. Adegan ini bukan fenomena tunggal. Tradisi yang selama berabad-abad merupakan ritual syukur keluarga ini kini menjelma menjadi “alat analisis kepribadian” dan “kalkulator kompatibilitas” bagi generasi digital. Bagaimana transformasi radikal ini terjadi?
Lebih dari Sekadar Penanggalan
Secara mendasar, weton adalah peringatan hari kelahiran seseorang yang dihitung berdasarkan pertemuan dua siklus dalam kalender Jawa Saptawara (siklus tujuh hari/Mingguan) dan Pancawara (siklus lima hari/pasaran Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Pertemuan kedua siklus ini terjadi setiap 35 hari sekali, menandai satu siklus weton.
Wetonan berdiri di atas sistem penanggalan Jawa yang merupakan perpaduan kompleks antara kalender Saka (Hindu), kalender Islam, dan pemahaman kosmologi lokal. Dr. Suryanto, antropolog dari Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa siklus 35 hari dalam wetonan merepresentasikan pertemuan mikro dan makrokosmos. Setiap manusia dianggap membawa ‘energi spesifik’ berdasarkan posisi siklus saat kelahirannya, dan ritual ini berfungsi sebagai penyelarasan hubungan antara individu dengan alam semesta.
Dalam bentuk tradisionalnya, wetonan memiliki tiga lapis makna yang saling terkait. Secara spiritual, slametan weton merupakan bentuk ngaturake panuwun (pengucapan syukur) kepada Sang Pencipta sekaligus penghormatan kepada leluhur. Secara sosial, ritual ini menjadi mekanisme penguatan ikatan kekerabatan dan distribusi makanan sebagai bentuk ekonomi berbagi. Data dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Tengah menunjukkan bahwa 72% keluarga Jawa di pedesaan masih mengadakan kenduri weton minimal sekali setahun. Bentuk tradisionalnya meliputi kenduri sederhana dengan keluarga terdekat, disertai ubarampe (perlengkapan sesaji) simbolis seperti apem (memohon ampun/ngapuraning pangapunten), kolak (mengingatkan pada Sang Pencipta/Khalik), dan bubur merah putih (lambang perlindungan). Ritual ini lebih menekankan pada refleksi, syukur, dan doa untuk siklus hidup 35 hari ke depan.
Mengapa Wetonan Kini Diterima?
Di balik popularitas wetonan di kalangan muda terdapat kebutuhan psikologis yang mendalam. Prof. Ambar Widaningrum, psikolog budaya dari Universitas Diponegoro, menganalisis bahwa di tengah derasnya budaya global, anak muda mencari anchor identitas yang autentik. Wetonan menawarkan sesuatu yang eksklusif dan terhubung dengan akar budaya mereka, sekaligus memberikan rasa memiliki dan keberlanjutan dengan leluhur. Ini adalah bentuk ‘glokalisasi’ yang sehat, di mana generasi muda mengadopsi tradisi dengan cara yang relevan bagi kehidupan mereka.
Ada alasan psikologis mengapa deskripsi sifat berdasarkan weton terasa begitu pas dengan diri kita. Pertama, ada yang namanya Efek Barnum Forer. Ini adalah kecenderungan kita untuk menerima pernyataan umum tentang kepribadian seolah-olah itu khusus menggambarkan kita. Misalnya, kalimat seperti "Kamu orangnya baik hati, tapi terkadang keras kepala demi hal yang kamu percayai" terdengar sangat personal. Padahal, hampir semua orang bisa merasa kalimat itu cocok untuk mereka.Kedua, ada Bias Konfirmasi. Saat kita membaca ramalan atau deskripsi weton, kita cenderung hanya mengingat dan memperhatikan hal-hal yang terbukti benar atau sesuai dengan pengalaman kita. Jika ada prediksi yang meleset, kita mudah sekali melupakannya. Otak kita secara alami menyaring informasi yang mendukung kepercayaan yang sudah kita pegang.
Sisi Lain yang Memprihatinkan
Sayangnya, popularitas weton di dunia digital punya dampak yang mengkhawatirkan. Makna aslinya yang dalam dan filosofis seringkali hilang, direduksi jadi sekedar "kalkulator jodoh" atau "ramalan nasib" yang instan. Konsep-konsep luhur Jawa tentang hidup harmoni dengan alam dan berbuat baik hampir tak pernah dibahas di konten-konten viral. Yang banyak beredar justru penyederhanaan berlebihan, seperti melabeli orang hanya berdasarkan wetonnya "Kamu Wetone A, pasti keras kepala."
Para orang tua dan pelestari tradisi pun merasa prihatin. Banyak dari mereka yang khawatir generasi muda hanya mengambil kulitnya, tanpa memahami esensi weton sebagai rasa syukur dan refleksi diri. Sebagaimana keluh seorang sesepuh di Solo, "Dulu weton untuk nguri-uri kabecikan (melestarikan kebaikan), sekarang malah jadi untuk ngitung-ngitung keuntungan."
Wetonan di Tangan Generasi Baru
Lalu bagaimana masa depan tradisi wetonan?
Jika dilihat dari gelombang minat anak muda saat ini, justru ada harapan besar. Wetonan tidak akan hilang, tetapi akan terus beradaptasi. Ke depan, kita mungkin akan melihat lebih banyak kolaborasi kreatif yang sehat. Misalnya, akun-akun media sosial yang tidak hanya sekadar memberi ramalan, tetapi juga mengajak untuk merenung, bersyukur, dan memahami filosofi hidup Jawa secara utuh.
Intinya, masa depan wetonan ada di tangan kita semua. Kita bisa memilih untuk hanya menjadikannya sebagai permainan atau kalkulator instan, atau menjadikannya sebagai jendela untuk mengenal diri dan budaya sendiri lebih dalam. Toh, di balik semua hitungan dan ramalan yang viral, esensi wetonan tetaplah sama: sebuah ajakan untuk pause sejenak, bersyukur atas kehidupan, dan berintrospeksi. Yang terpenting adalah keseimbangan. Nikmati keseruan membahas kecocokan weton dengan teman atau pasangan, tapi jangan lupa untuk menggali makna yang lebih dalam. Dengan begitu, tradisi ini tidak hanya jadi tren sesaat, tetapi benar-benar hidup dan bermanfaat bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Di balik angka-angka kecocokan dan deskripsi kepribadian yang viral, tetap ada inti yang tak berubah, keinginan manusia untuk memahami diri, mencari harmoni, dan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar. Tantangan kita sekarang adalah memastikan transformasi ini tidak mengikis kedalaman kebijaksanaan yang telah dibangun selama berabad-abad. Mungkin, pertanyaan terpenting bukan lagi “Wetonmu apa?” tetapi “Bagaimana kita menggunakan pengetahuan tentang weton untuk menjadi manusia yang lebih baik?” pertanyaan yang relevan baik di era digital maupun di tengah kenduri keluarga di pedesaan Jawa.
Jelajahi Sisi Terbaik Jawa Tengah
Tidak ada komentar
Posting Komentar