Slider

Langit Borobudur Bercahaya dalam Festival Lampion Waisak

Ribuan lampion diterbangkan di kawasan Borobudur saat perayaan Waisak, menghadirkan pemandangan malam yang indah sekaligus sarat makna spiritual.

Perayaan Hari Raya Waisak selalu menghadirkan suasana yang berbeda di kawasan Candi Borobudur yang berada di wilayah Magelang, Jawa Tengah. Selain menjadi hari suci bagi umat Buddha, Waisak juga dikenal luas oleh masyarakat karena adanya Festival Lampion yang spektakuler. Pada malam puncak perayaan, ribuan lampion dilepaskan ke langit sehingga menciptakan pemandangan yang memukau sekaligus penuh makna spiritual.

Kerajinan Eceng Gondok
Gambar 1. Festival lampion Waisak di Candi Borobudur

Festival ini tidak hanya menjadi atraksi wisata yang indah, tetapi juga merupakan bagian dari rangkaian ibadah Waisak yang sakral. Banyak umat Buddha dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri datang ke Borobudur untuk mengikuti prosesi tersebut secara langsung. Kehadiran lampion-lampion yang perlahan terbang di atas siluet candi menjadikan momen ini sebagai salah satu perayaan budaya paling ikonik di Indonesia.

Rangkaian Prosesi Waisak sebelum Festival Lampion

Sebelum acara pelepasan lampion berlangsung pada malam hari, perayaan Waisak di kawasan Borobudur biasanya diawali dengan beberapa rangkaian ritual keagamaan. Prosesi ini mencerminkan nilai spiritual yang menjadi inti dari perayaan Waisak.

Kerajinan Eceng Gondok
Gambar 2. Prosesi kirab Waisak umat Buddha

Salah satu kegiatan penting adalah kirab Waisak yang dimulai dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Dalam kirab tersebut, para biksu dan umat Buddha membawa berbagai simbol suci serta relik Buddha. Prosesi ini dilakukan dengan berjalan kaki sambil melantunkan doa-doa sebagai bentuk penghormatan terhadap ajaran Buddha.

Setelah kirab tiba di Borobudur, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ritual pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi candi searah jarum jam sebagai simbol penghormatan dan meditasi. Umat Buddha biasanya melakukan pradaksina beberapa kali sambil merenungkan ajaran-ajaran Buddha.

Selain itu, terdapat pula sesi meditasi dan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh para biksu. Suasana menjadi sangat tenang dan khidmat karena umat yang hadir diajak untuk melakukan refleksi diri serta memperkuat nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah seluruh rangkaian ibadah selesai, acara kemudian memasuki puncaknya yaitu pelepasan lampion. Festival lampion ini menjadi momen yang paling dinantikan oleh pengunjung karena menghadirkan pemandangan langit malam yang dipenuhi cahaya.

Dalam perayaan Waisak 2025, festival lampion dijadwalkan berlangsung pada Senin, 12 Mei 2025 di kawasan pelataran Borobudur. Acara pelepasan lampion dilaksanakan di dua lokasi utama dalam kompleks candi, yaitu Lapangan Marga Utama dan Taman Lumbini.

Untuk mengatur jumlah peserta dan menjaga keamanan acara, pelepasan lampion dibagi menjadi dua sesi utama :

  • Sesi pertama : pukul 18.00–20.00 WIB dengan open gate pukul 16.30–17.30 WIB
  • Sesi kedua : pukul 21.00–23.00 WIB dengan open gate pukul 20.00–21.00 WIB

Ketika momen pelepasan dimulai, para peserta secara bersama-sama menyalakan lampion yang telah disiapkan oleh panitia. Lampion tersebut kemudian dilepaskan secara perlahan sehingga terbang ke langit malam. Ribuan lampion yang melayang menciptakan panorama yang sangat indah, terutama dengan latar belakang megahnya Candi Borobudur.

Dalam beberapa perayaan sebelumnya, jumlah lampion yang diterbangkan mencapai lebih dari dua ribu unit. Angka tersebut memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan kalender Buddha dan sering menjadi bagian dari filosofi dalam perayaan Waisak.

Sistem Tiket dan Cara Mengikuti Festival Lampion

Karena popularitas festival ini sangat tinggi, panitia menerapkan sistem tiket untuk mengatur jumlah peserta yang ingin mengikuti pelepasan lampion secara langsung. Tiket biasanya dijual secara online melalui platform resmi penyelenggara.

Kerajinan Eceng Gondok
Gambar 3. Pengunjung melakukan registrasi tiket festival lampion Waisak Borobudur

Pada Festival Lampion Borobudur 2025, tiket donasi untuk mengikuti pelepasan lampion berada di kisaran Rp750.000 per orang. Tiket tersebut sudah mencakup beberapa fasilitas, antara lain :

  • tiket masuk ke kawasan Borobudur
  • akses ke area pelepasan lampion
  • wishing card untuk menuliskan harapan
  • kaus eksklusif
  • goodie bag dan snack

Selain tiket untuk mengikuti pelepasan lampion, tersedia juga tiket bagi pengunjung yang hanya ingin menyaksikan festival dari luar area inti. Harga tiket menonton ini biasanya sekitar Rp50.000 per orang dan dapat dibeli melalui situs resmi penjualan tiket wisata.

Setelah membeli tiket secara online, pengunjung akan menerima e-ticket yang dikirim melalui email. Saat datang ke lokasi acara, barcode pada tiket tersebut akan dipindai oleh panitia sebagai bukti akses masuk ke area festival.

Aturan dan Ketentuan bagi Peserta

Untuk menjaga ketertiban dan kekhusyukan acara, panitia juga menetapkan beberapa aturan bagi peserta yang hadir dalam festival lampion. Pengunjung diwajibkan mengenakan pakaian sopan dengan dominasi warna putih sebagai simbol kesucian dalam perayaan Waisak. Penggunaan pakaian seperti celana pendek, rok pendek, atau pakaian tanpa lengan biasanya tidak diperbolehkan.

Kerajinan Eceng Gondok
Gambar 4. Peserta festival lampion Borobudur mengenakan pakaian putih

Selain itu, peserta tidak diperkenankan membawa lampion sendiri dari luar area acara. Semua lampion yang digunakan telah disediakan oleh penyelenggara demi menjaga keamanan dan keseragaman prosesi.

Dalam praktiknya, satu lampion biasanya diterbangkan bersama oleh beberapa peserta yang dipandu langsung oleh panitia. Hal ini dilakukan agar proses pelepasan lampion berjalan tertib dan aman.

Daya Tarik Wisata dan Antusiasme Pengunjung

Festival lampion di Borobudur kini telah berkembang menjadi salah satu agenda wisata budaya yang paling dinantikan setiap tahun. Banyak wisatawan yang sengaja datang ke Magelang hanya untuk menyaksikan keindahan pelepasan lampion di malam Waisak.

Kerajinan Eceng Gondok
Gambar 5. Wisatawan menyaksikan festival lampion Waisak di kawasan Borobudur

Tingginya minat masyarakat membuat tiket festival sering kali habis dalam waktu singkat setelah penjualan dibuka. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, tiket dapat terjual habis hanya dalam hitungan menit karena jumlah peminat yang sangat besar.

Selain menghadirkan pengalaman visual yang indah, festival ini juga memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan langsung suasana spiritual perayaan Waisak di salah satu situs warisan dunia paling terkenal di Indonesia.

Di balik keindahan lampion yang terbang di langit Borobudur, terdapat makna filosofis yang cukup mendalam. Lampion yang menyala sering diartikan sebagai simbol pencerahan, yaitu perjalanan manusia untuk menemukan kebijaksanaan dan kedamaian batin.

Banyak peserta menuliskan harapan mereka pada wishing card yang ditempelkan pada lampion sebelum diterbangkan. Harapan tersebut bisa berupa doa untuk kesehatan, kedamaian dunia, maupun kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Ketika lampion-lampion itu perlahan menjauh ke langit malam, momen tersebut menjadi simbol pelepasan segala hal negatif serta harapan baru bagi kehidupan yang lebih harmonis. Melalui perpaduan antara ritual spiritual dan keindahan visual, Festival Lampion Waisak di Borobudur tidak hanya menjadi sebuah perayaan budaya, tetapi juga pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang menyaksikannya.


blogger
© all rights reserved
made with by Pustaka Media Online